14 September 2015, pukul 14.25 wib
Saya masih dikantor mengerjakan berbagai kewajiban saya. Sesekali saya suka menatap ke luar jendela. Sekedar mengalihkan pandangan dari komputer. Dan pada waktu saya menulis blog ini, suasana di luar kantor masih sama dengan beberapa minggu kemarin. ASAP TEBAL.
Sudah lebih dari 2 minggu kabut asap menyelimuti kota kami, Pekanbaru, Riau. Akibat pembakaran hutan dan lahan. Yang entah siapa yang berbuat, akibatnya kami terpaksa mengkonsumsi udara yang semakin hari semakin tidak layak untuk dihirup.
Rela? Ya enggaklah! Kami hampir mati rasanya berada di lingkungan sendiri.Setiap pagi kami membuka jendela kamar, bukannya ucap syukur yang kami lantunkan, tapi keluh kesah melihat langit yang masih keruh. "Duh,asap masih tebal!". Bahkan, tak jarang malah sumpah serapah untuk pembakar lahan dan pemerintah yang keluar dari mulut kami.
Pemerintah? Iya, 18 tahun kami harus menghadapi bencana seperti ini. Sejak saya masih memakai baju putih merah, sampai saya mengenakan seragam kantor. Waktu yang sangat lama bukan? Wajar kalau kami kesal, marah, muak, dengan keadaan yang selama 18 tahun terus diulang. Seperti tidak ada hukum kuat yang dijalankan pemerintah mengenai kabut asap ini. Kalau memang pemerintah serius, kenapa masalah kabut asap bisa selalu parah disetiap tahun dan berulang sampai 18 tahun? Nah!!!
![]() |
| :: Photo by: Ninosudibyo :: |
| :: gedung diseberang kantor tampak buram :: |
| :: di dalam kantorpun pakai masker. Asap pelan-pelan masuk ke dalam gedung :( :: |
Selamatkanlah anak kami ya Allah. Selamatkan kami dari bencana ini. :(
Dan kami ingin hukum yang seadil-adilnya bagi pelaku pembakaran hutan ini. Berikan hukuman yang ada efek jera. Agar kabut asap tidak pernah terjadi lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar