Mengenai Saya

Foto saya
for contact please email: sandraelita@gmail.com

Label

Kamis, 20 September 2012

ILUSI

Malam ini aku sendiri lagi di rumah. Semuanya pergi. Mulai dari orang tuaku yang makan malam bersama rekan kerja yang konon prinsipnya “segala sesuatu harus dibicarakan didalam makan malam. Agar terasa tenang dan jelas”, kemudian kakakku yang menghabiskan tiga malamnya di rumah nenek di desa, serta abangku yang sedang kencan dengan pacarnya yang paling aku benci. Kenapa aku membencinya? Jelas saja, wanita itu sombong, angkuh dan tatapannya sinis selalu. Bahkan kadang-kadang jika aku tersenyum dan menyapanya, ia tak mau membalas. Entah mengapa abangku sampai jatuh hati padanya. Jika ada yang harus aku lakukan untuk wanita itu, aku sangat ingin sekali menjambak dan mencabut rambut panjangnya sambil berteriak, “jangan dekati abangku!”

            Aku berjalan ke ruang keluarga dan kalender yang tergantung di dinding menarik perhatianku. “mm..tanggal 13, hari Kamis. Hm…hari yang menakutkan. Angka sial dan hari yang menakutkan bersatu”,pikirku. Maka kunyalakan semua lampu di rumah ini dan memulai hobiku. Kulihat jam saat itu pukul dua belas malam. Aku tak akan bisa tidur jika aku sendirian di rumah. Tiba-tiba aku terdiam, ada suara langkah kaki yang  sayup-sayup  terdengar. Sunyi seketika. Suara telepon yang tiba-tiba berdering membuatku tersentak dari diamku. “halo!”aku mulai mengangkat telepon. Tak ada balasan. “halo, siapa ini?”tanyaku kembali. Tetap tak ada sahutan. Aku putuskan untuk menutup telepon dan melupakan segalanya. Saat aku kembali ke tempat dimana aku menikmati hobiku, telepon berdering lagi.

Seolah-olah mendekatiku. Semakin ingin ku dengar, semakin nyaring bunyinya. Dan semakin kencang jantungku berdegup. Segera aku berlari ke kamar untuk mengambil bantal keberuntunganku. Kupeluk bantal itu kuat-kuat dan memutuskan kembali ke tempat dimana aku seperti ingin mati ketakutan. Saat itu aku duduk dan memandang ke depan. Terlihat sosok wanita tua dengan muka yang keriput mencoba mencakar mukaku. Gerakan refleks melindungi mukaku dengan bantal keberuntungan langsung kulakukan.

            Beberapa saat aku terdiam. Aku memberanikan diri untuk menghadapi segala yang terjadi. “Tidak, tidak mungkin nyata”, pikirku. Kemudian aku kembali memandang ke depan. Tak ada siapa-siapa. Ku lihat bantal keberuntungan dan terkejut. Ada bekas cakaran di bantal itu. Aku menangis sekuat-kuatnya. Aku kesal, ingin marah. Segera aku melepas kacamata tiga dimensiku, mematikan televisi dan mulai berteriak,”Luna! Berhentilah mencakar bantalku. Dasar kucing nakal”.
 
Difikirkan dan ditulis oleh: Sandra D. Elita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar