Malam
ini aku sendiri lagi di rumah. Semuanya pergi. Mulai dari orang tuaku
yang makan malam bersama rekan kerja yang konon prinsipnya “segala
sesuatu harus dibicarakan didalam makan malam. Agar terasa tenang dan
jelas”, kemudian kakakku yang menghabiskan tiga malamnya di rumah nenek
di desa, serta abangku yang sedang kencan dengan pacarnya yang paling
aku benci. Kenapa aku membencinya? Jelas saja, wanita itu sombong,
angkuh dan tatapannya sinis selalu. Bahkan kadang-kadang jika aku
tersenyum dan menyapanya, ia tak mau membalas. Entah mengapa abangku
sampai jatuh hati padanya. Jika ada yang harus aku lakukan untuk wanita
itu, aku sangat ingin sekali menjambak dan mencabut rambut panjangnya
sambil berteriak, “jangan dekati abangku!”
Aku berjalan ke ruang keluarga dan kalender yang tergantung di dinding
menarik perhatianku. “mm..tanggal 13, hari Kamis. Hm…hari yang
menakutkan. Angka sial dan hari yang menakutkan bersatu”,pikirku. Maka
kunyalakan semua lampu di rumah ini dan memulai hobiku. Kulihat jam saat
itu pukul dua belas malam. Aku tak akan bisa tidur jika aku sendirian
di rumah. Tiba-tiba aku terdiam, ada suara langkah kaki yang
sayup-sayup terdengar. Sunyi seketika. Suara telepon yang tiba-tiba
berdering membuatku tersentak dari diamku. “halo!”aku mulai mengangkat
telepon. Tak ada balasan. “halo, siapa ini?”tanyaku kembali. Tetap tak
ada sahutan. Aku putuskan untuk menutup telepon dan melupakan segalanya.
Saat aku kembali ke tempat dimana aku menikmati hobiku, telepon
berdering lagi.
Seolah-olah
mendekatiku. Semakin ingin ku dengar, semakin nyaring bunyinya. Dan
semakin kencang jantungku berdegup. Segera aku berlari ke kamar untuk
mengambil bantal keberuntunganku. Kupeluk bantal itu kuat-kuat dan
memutuskan kembali ke tempat dimana aku seperti ingin mati ketakutan.
Saat itu aku duduk dan memandang ke depan. Terlihat sosok wanita tua
dengan muka yang keriput mencoba mencakar mukaku. Gerakan refleks
melindungi mukaku dengan bantal keberuntungan langsung kulakukan.
Beberapa saat aku terdiam. Aku memberanikan diri untuk menghadapi
segala yang terjadi. “Tidak, tidak mungkin nyata”, pikirku. Kemudian aku
kembali memandang ke depan. Tak ada siapa-siapa. Ku lihat bantal
keberuntungan dan terkejut. Ada bekas cakaran di bantal itu. Aku
menangis sekuat-kuatnya. Aku kesal, ingin marah. Segera aku melepas
kacamata tiga dimensiku, mematikan televisi dan mulai berteriak,”Luna!
Berhentilah mencakar bantalku. Dasar kucing nakal”.
Difikirkan dan ditulis oleh: Sandra D. Elita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar